Posted by: tonyteaching | December 31, 2009

Mengukur Validity?

Validity‘ adalah ukuran keakuratan suatu alat dalam mengukur sesuatu. Suatu alat disebut ‘valid’ jika alat tersebut benar-benar mengukur apa yang memang ingin diukur. Contoh, penggaris adalah alat yang valid untuk mengukur panjang atau lebar kertas, tetapi bukan alat yang valid untuk mengukur berat kertas.

Sebelum  saya masuk ke hal yang lebih teknis, biar nggak bingung nantinya, kita bakalan mendengar ada istilah:
-External Validity
-Internal Validity

External validity‘ intinya adalah seberapa ‘benar’ suatu hasil study di-generalisasi atau ditransformasikan ke hal yang lebih umum.
Contoh: dalam kasus research saya yang menggunakan respondents 155 orang dari 25 negara, kemudian divalidasi hanya dari 3 prototypes di South Australia dengan jumlah respondents yang juga sangat terbatas dan tidak mewakili semua pengguna aplikasi SMS untuk layanan publik di seluruh dunia…tentu sangat sulit mengatakan bahwa penelitian ini Valid secara external (hal yang sama terjadi untuk teori2 adopsi teknologi yang umumnya menggunakan respondents hanya dari mahasiswa di universitasnya). Dalam praktek di teori dan riset Adopsi Teknologi, ‘external validity’ suatu teori/model dikonfirmasi dengan respondents dan konteks yang berbeda apakah teori/model tersebut tetap berlaku?

Internal validity‘ adalah ‘kebenaran’ suatu study terbatas/focus pada ‘internal’ study itu sendiri (apakah metodenya sudah benar? apakah sample nya udah representatif? apakah pengambilan kesimpulannya sudah benar? apakah kesimpulan sudah mempertimbangkan kemungkinan2 logika yang lain? dst).

Untuk mengukur Internal Validity ini ada beberapa indikator yang dapat dilakukan:

Face Validity : ..’kelihatannya kalo dibaca sepintas semua metode dan kalimatnya sudah benar..efektif, concise..?”
Content Validity: …”pertanyaan yang digunakan untuk mengukur construct ini sudah mewakili semua parameter..?”
Criterion Related Validity: …memastikan ke-valid-an suatu alat ukur dengan alat ukur lain yang sudah terbukti valid, misal: Test praktek menyopir terbukti ‘valid’ mengukur keahlian seseorang mengendarai kendaraan..maka saya bisa menguji validitas Tes Tertulis keahlian menyopir dengan membandingkan skor tiap item di Tes Tertulis dengan item yang sama di Tes Praktek.
Construct Validity: …menguji ke-valid-an suatu instrument pengukuran dengan mengukur nilai korelasi antar construct (Teory vs hasil pengukuran empiris)

——————————————–

Memastikan sebuah item questionnaire memang valid mengukur faktor yang memang ingin diukur tidaklah mudah, karena umumnya faktor yang akan diukur tidak berujud. Contoh: sulit memastikan bagaimana kita bisa mengukur apakah seseorang emosional atau tidak? apakah seseorang memiliki attitude positif atau negatif terhadap sebuah teknologi? apakah seseorang benar-benar memiliki niat untuk menggunakan sebuah layanan? apakah seseorang benar-benar percaya diri memiliki kemampuan menggunakan suatu teknologi?

Mengukur sesuatu yang tidak berwujud (seperti faktor-faktor mental) adalah sulit.
Bahkan mengacu pada pendapatnyaLeary (2001): “none of these entities can be observed directly, but they are hypothesized to exist on the basis of indirect evidence
Artinya memang bisa dikatakan Tidak Mungkin mengukur faktor mental secara langsung, yang bisa dilakukan hanyalah mengukur kemungkinan ‘keberadaan’ faktor-faktor mental tersebut berdasarkan bukti-bukti tidak langsung keberadaan faktor mental tersebut (biasanya berdasarkan teori atau penelitian sebelumnya).

Contoh:
mengukur ada tidaknya ‘niat seseorang menggunakan sebuah teknologi‘ dapat diukur dengan pertanyaan:
– Apakah anda berniat memakai teknologi ini tahun ini? (Setuju – Tidak Setuju: 5-4-3-2-1)
– Apakah anda ingin memakai teknologi ini suatu ketika nanti? (Setuju – Tidak Setuju: 5-4-3-2-1)

mengukur ada tidaknya ‘pengaruh keluarga dalam keputusan menggunakan sebuah teknologi‘ dapat diukur dengan pertanyaan:
a. Keluarga saya menginginkan saya menggunakan teknologi ini? (Setuju – Tidak Setuju: 5-4-3-2-1)
b. Bagi saya, keinginan keluarga selalu ingin saya penuhi? (Setuju – Tidak Setuju: 5-4-3-2-1)

Contoh Pertanyaan yang TIDAK VALID, misal

Saya ingin menguji keberadaan hubungan antara frekuensi bersenang-senang dengan prestasi murid.
Prestasi murid bisa saya ukur dengan pertanyaan sederhana “Berapa nilai nilai rapor anda?”

Lalu frekuensi bersenang-senang saya ukur pake apa ya?
Misal saya memakasi pertanyaan: “Seberapa sering anda ke bioskop dalam 1 bulan?”
Pertanyaan ini kemungkinan TIDAK VALID mengukur frequensi bersenang-senang untuk respondent seorang murid desa yang hobby bersenang-senangnya adalah main sepak bola.

—————————————————————————————————-

Sekarang pertanyaannya BAGAIMANA MENGUKUR VALIDITAS Questionnaire??

0. Cara paling sederhana memastikan validitas sebuah alat ukur adalah membandingkan antara hasil jawaban pertanyaan dengan bukti empiris:
Contoh, saya ingin mengukur tingkat emosional seseorang (mudah/sulit marah) maka saya bisa menggunakan pertanyaan:

– Saya mudah sekali marah untuk hal-hal yang sepele? (Setuju – Tidak Setuju 5-4-3-2-1)
– Dalam 1 minggu setidaknya saya pasti marah? (Setuju – Tidak Setuju 5-4-3-2-1)
– Bagi saya menunjukkan bahwa saya marah adalah hal yang wajar? (Setuju – Tidak Setuju 5-4-3-2-1)

Misal seorang respondent menjawab 5 untuk setiap pertanyaan, jadi total skore semua jawaban 15 maka bisa kita simpulkan bahwa respondents tersebut benar-benar ‘Pemarah’
Naaah…untuk membuktikan apakah ketiga pertanyaan itu adalah alat yang ‘Valid’ untuk mengukur tingkat Emosional seseorang, maka hari-hari berikutnya saya bisa mengamati keseharian respondent tersebut, Jika benar-benar dalam pengamatan saya saya menemukan orang tersebut memang mudah marah, sering marah, dst maka alat questionnaire tadi benar2 terbukti ‘Valid’

Jelas metode ini nggak mungkin dilakukan ya..karena consume time dan semakin sulit mengamati untuk faktor2 yang internal yang nggak keluar dipermukaan misalnya ‘attitude’

Maka metode lain untuk mengukur validitas suatu questionnaire adalah dengan
1. Face validity test

Face validity test intinya mengevaluasi ke-valid-an suatu questionnaire berdasarkan ‘tampilan luar’nya saja🙂
Agar lebih credible sebaiknya meminta pendapat pakar: pakar statistik atau pakar dibidang yang kita teliti. Tapi bisa juga meminta pendapat respondent2 kita.
Kita tanyakan: apakahsetiap pertanyaan sudah jelas dan nggak ambigu? apakah setiap instruksi jelas? apakah secara logika pertanyaan udah benar2 efektif menanyakan construct yang akan diukur? ada nggak kata-kata yang membingungkan? apakah keliatannya questionnaire ini udah well-designed? …

2. Construct Validity

mengukur ke-valid-an suatu kumpulan item pengukuran suatu contruct dengan menghitung nilai Korelasi antar construct satu dengan yang lain (sesuai dasar teori).

Metode ini paling cocok untuk mengukur construct2 yang tidak terlihat secara langsung (spt factor2 mental).

Mengacu pendapat  Cronbach and Meehl (1995 in Leary 2001): “the validity of measures of hypothetical constructs can be assessed by studying the relationship between the measure of the construct and scores on other measures”. Jadi misal dalam teori yang saya kembangkan dalam riset saya menyatakan bahwa  ‘Attitudes’ terhadap tindakan menggunakan suatu teknologi ada hubungan positif dengan ‘Perceived Easy of Use’ tetapi ada hubungan negatif dengan ‘Perceived Risk’. …
Jadi teknisnya saya harus menghitung skor item2 pertanyaan untuk ‘Attitude’..kemudian skor untuk ‘Perceived Ease of Use’ ..dan menghitung korelasi ke dua contruct tersebut (semakin significant positif semakin baik)
lalu membandingkan ‘Attitude’ dengan ‘Perceived Risk’ korelasi ke dua contruct tersebut (semakin significant negatif semakin baik).

Jadi Construct validity diukur dari inter-correlating antar measures tiap construct

3. Content Validity

Metode lain yang bisa diambil adalah ‘Content Validity’.
Metode ini mengevaluasi item2 pertanyaan apakah benar2 sudah merepresentasikan/mewakili seluruh indikator konten construct yang ingin diukur.
Contoh paling sederhana: jika saya seorang guru Matematika dan ingin mengukur kemampuan matematika siswa saya,
jika saya hanya memberikan pertanyaan PERKALIAN, maka alat ukur saya ini TIDAK VALID secara CONTENT!
seharusnya saya memberikan juga pertanyaan fungsi-fungsi lain yang termasuk dalam kurikulum yang sudah saya ajarkan, misalnya PEMBAGIAN, PENJUMLAHAN, PENGURANGAN, dll

He…he..he..jadi inget dosa lama sebagai dosen, berarti selama ini Ujian saya sering Nggak Valid secara Content!🙂 karena sering cari mudahnya saja ngasih soal sedikit. ..eit tapi nanti dulu, dulu kalo saya ngasih komponen nilai (sebagai representasi kemampuan mahasiswa menguasai kuliah saya) terdiri dari Tugas, PR, presentasi, dan ujian asalkan semua materi saya terwakili dalam komponen tersebut berarti Alat Ukur saya sudah Valid lho secara Content!!🙂

Nah..sekarang kalo Construct yang akan diukur semakin kompleks dan nggak berwujud, misal ‘Persepsi Resiko’ dalam memanfaatkan SMS, saya ukur dengan pertanyaan:
– Bagi saya memakai SMS Beresiko saya Kehilangan Uang tak terduga?

pertanyaan ini belum Valid secara Content karena Resiko bukan hanya terkait Uang bisa juga terkait Privacy atau Keamanan Pribadi..jadi untuk meningkatkan Content Validity-nya seharusnya item pertanyaan ditambah 2:
– Bagi saya memakai SMS dapat menyebabkan kenyamanan pribadi saya terganggu?
– Bagi saya memakai SMS Beresiko terhadap keamanan diri saya?

4. Criterion Related Validity: …memastikan ke-valid-an suatu alat ukur dengan alat ukur lain yang sudah terbukti valid, misal: Test praktek menyopir terbukti ‘valid’ mengukur keahlian seseorang mengendarai kendaraan..maka saya bisa menguji validitas Tes Tertulis keahlian menyopir dengan membandingkan skor tiap item di Tes Tertulis dengan item yang sama di Tes Praktek.


Responses

  1. thx,mas tony…really understandable.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: